PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK

Universitas Padjadjaran

Selama satu dekade terakhir, UNPAD telah mencapai prestasi yang luar biasa dengan berhasil mengelola dan mengolah 100% sampah organik yang dihasilkan di lingkungan kampus. Pada tahun 2023, UNPAD terus mendorong batasan inovasi dalam pengelolaan sampah organik dengan membangun sistem produksi Eco-enzyme yang memanfaatkan limbah buah dari lingkungan kampus.

Di kampus Jatinangor, tempat sampah khusus untuk sampah organik dan anorganik ditempatkan secara strategis di setiap gedung untuk memudahkan pembuangan sampah. Petugas K3L melakukan pemindahan sampah ke TPS 3R UNPAD Ciparanje menggunakan truk sampah pada hari kerja pagi (06:00 – 11:00 WIB) untuk memastikan pengelolaan sampah berjalan efektif. Di TPS 3R UNPAD Ciparanje, dilakukan proses pemilahan sekunder—disebut pemilahan ganda—semakin menyempurnakan prosedur pengelolaan sampah, mengoptimalkan pemulihan sumber daya, dan mendorong keberlanjutan di kampus.

Proses Pemilahan Sampah

Terdapat 3 mesin pencacah aktif di TPS 3R UNPAD Ciparanje yang digunakan untuk mencacah halus daun, ranting kecil, sisa makanan, dan sampah organik lainnya untuk keperluan pengomposan. Mesin-mesin ini dirawat dengan cermat agar tetap dalam kondisi kerja optimal dan menjalani perawatan rutin bulanan oleh para profesional terampil yang ahli dalam pengoperasiannya. Rutinitas perawatan ini memastikan efisiensi dan fungsionalitas mesin.

Proses Penghancuran Sampah Organik

Salah satu proses pengelolaan sampah organik yang dilaksanakan oleh UNPAD adalah pengomposan. Sampah organik yang telah dipilah dan dicacah kemudian diolah menjadi kompos di TPS 3R UNPAD Ciparanje. Sumber utama sampah organik untuk pengomposan adalah dedaunan, ranting kecil, dan sisa tanaman lainnya yang merupakan jenis sampah organik dengan volume terbesar. Pengomposan berlangsung secara alami selama empat bulan dengan penambahan kotoran sapi. Proses ini dilakukan tiga kali seminggu dengan total sampah sekitar 0,5-1 ton per batch. Kompos yang dihasilkan kemudian digunakan untuk kebun dan perkebunan di sekitar kampus.

Pengomposan Sampah Organik

UNPAD aktif memproduksi pupuk cair dari sampah organik. Pupuk cair ini dibuat dengan mencampur 30% kotoran sapi, 30% sampah organik, dan 40% air. Selanjutnya, petugas TPS 3R mengatur kadar pH dalam campuran pupuk secara hati-hati. Proses fermentasi pupuk cair ini memakan waktu sekitar 2 minggu dan dapat mengubah sekitar 30 kilogram sampah organik menjadi 5 liter pupuk cair. Pupuk cair yang dihasilkan menjalani uji kandungan di laboratorium Fakultas Pertanian dan selanjutnya digunakan di kebun kampus, perkebunan, dan warga sekitar.

Pengolahan Sampah Organik menjadi Pupuk Cair:

Pendekatan inovatif pengelolaan sampah organik di Kampus Jatinangor UNPAD adalah budidaya larva Black Soldier Flies/BSF. Sampah organik yang digunakan sebagai bahan baku terdiri dari 50% sisa makanan, 20% sisa sayur, 20% sisa buah, dan 10% daun serta sampah organik lainnya. Hasil dari proses ini dikenal sebagai “kasgot” (sisa belatung). Kasgot yang berbentuk kasar dan lunak ini diproduksi setiap minggu. Kasgot telah diuji dan dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman cabai dan terong. Selain itu, berbagai fakultas telah memanfaatkan belatung sebagai pakan ikan dan unggas. Pendekatan berkelanjutan ini tidak hanya mengurangi sampah organik tetapi juga berkontribusi terhadap praktik pertanian dan peternakan.

Pengelolaan Sampah Organik Melalui Budidaya Black Soldier Fly (BSF)

Universitas Padjadjaran telah memulai produksi eco-enzyme menggunakan sisa limbah buah yang dikumpulkan dari lingkungan kampus. Limbah ini ditempatkan dalam wadah tertutup dan dicampur dengan molase dan air dengan perbandingan 1 bagian molase, 3 bagian limbah buah, dan 10 bagian air. Eco-enzyme diproduksi setelah proses fermentasi selama 3 bulan dan telah digunakan untuk membantu pengolahan air limbah di sekitar kampus. Selanjutnya, eco-enzyme yang dihasilkan akan menjalani uji kandungan untuk potensi penggunaan dalam produk-produk seperti sabun dan pembersih lainnya. Secara bersamaan, limbah padat yang dihasilkan diarahkan ke sistem pengomposan untuk memastikan bahwa semua limbah dimanfaatkan secara efektif.

Sistem Produksi Eco-Enzyme dari Sisa Buah

UNPAD memiliki sistem untuk mengubah limbah ternak menjadi biogas. Sistem ini terletak di area TPS 3R Ciparanje dan dibangun bekerja sama dengan Fakultas Peternakan. Sistem ini dibangun sebagai upaya untuk mengurangi pencemaran dari limbah ternak. Limbah ternak diolah menjadi biogas menggunakan sistem tertutup dan terpadu.

Sistem Produksi Biogas

UNPAD telah memperkenalkan sistem pengolahan sampah kertas yang menggunakan proses downcycling dengan mesin penghancur dan mesin penge-press. Proses ini menghasilkan bubur kertas dan bahan baku yang digunakan untuk membuat produk berbahan dasar kertas. Pada tahun 2023, mesin penge-press kertas tersebut sedang menjalani perawatan. Selama periode ini, sampah kertas dikumpulkan untuk diolah oleh pengumpul kertas, dan sebagian diolah menggunakan insinerator untuk membuat batu bata dari abu bawahnya.

Mesin Press Kertas