Universitas Padjadjaran telah merancang lanskap kampus yang ramah lingkungan dengan area penyerapan air alami yang luas. Lahan terbuka, taman, dan zona hijau memainkan peran penting dalam mendukung infiltrasi air dan mencegah banjir. Tak hanya itu, jalur pedestrian, lapangan bola, dan area parkir berpori pun ikut membantu menyerap air, menjaga keseimbangan ekosistem kampus. Usaha ini dilakukan untuk meningkatkan nilai konservasi air di area kampus.
Upaya konservasi air yang telah diterapkan secara bertahap meliputi pembangunan kolam retensi, dam pengendali (check dam), sumur resapan, area bio-drainase, taman hujan, penampungan air hujan, hingga biopori. Program-program ini bertujuan untuk mengoptimalkan infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga dapat menjaga kesejahteraan lingkungan dan ekosistem sekitar.
Unpad juga aktif melakukan kegiatan penanaman pohon setiap tahunnya. Penanaman ini dilakukan guna mendukung usaha konservasi air di Kampus Unpad Jatinangor melalui perluasan zona tangkapan air. Unpad pada tahun 2024 telah melakukan penanaman sebayak 51 pohon di area Leuwi Padjadjaran 2. Penanaman ini dilakukan dengan Kerjasama dengan HIMPUNI (Perhimpunan Organisasi Alumni Perguruan Tinggi Negeri). Selain dilakukan di area kampus Unpad, penanaman pohon dilakukan juga di area Gunung Geulis sebanyak 81 pohon oleh Organisasi kemahasiswaan International Association of Agricultural Student and Related Sciences (IAAS).
Embung Unpad dibangun untuk menahan dan menampung aliran air permukaan dari kawasan IPDN-Ciparanje sehingga dapat mengurangi resiko banjir di kawasan hilir yaitu daerah Unpad dan sekitarnya. Embung Unpad dimaksimalkan sebagai lokasi penyimpanan air untuk pemanfaatan pusat studi di area tersebut khusunya area pertanian. Selain sebagai implementasi program konservasi air di Unpad kampus Jatinangor, Embung Unpad saat ini juga dimanfaatkan sebagai area pembelajaran bagi bidang agrokompleks dan sarana pelatihan olahraga air seperti mendayung dan memancing.
Kolam retensi di Universitas Padjadjaran dirancang sebagai salah satu upaya strategis untuk mengelola air hujan dan air limpasan permukaan secara efektif sehingga air tersebut tidak langsung terbuang ke saluran drainase, melainkan ditampung terlebih dahulu untuk pemanfaatan lebih lanjut. Selain berfungsi sebagai pengelolaan air, kolam retensi juga mendukung kegiatan pertanian dan perikanan di lingkungan kampus. Area kolam retensi ini sering dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai kolam pemancingan. Saat ini, Unpad memiliki lima lokasi kolam retensi yang tersebar di berbagai titik strategis, yaitu di kawasan Ciparanje, Pedca Utara, Tanah KNKT Faperta, Arboretum, serta kebun Muncuang di belakang gedung rektorat.
Taman hujan dibangun untuk memanen air hujan dan air limpasan dari bangunan serta lahan terbangun yang kemudian dialirkan ke tanah atau tanaman agar dapat diserap. Area taman hujan di wilayah Unpad Jatinangor terletak di sekitar Gedung Rektorat. Area di sekitar Gedung Rektorat memiliki ketinggian tertinggi dibandingkan dengan bangunan lain. Dengan memanfaatkan sistem gravitasi, aliran air akan lebih mudah disalurkan ke seluruh area kampus, sehingga sangat cocok untuk memanen air hujan dan air limpasan.
Sistem pemanenan air hujan di kawasan Unpad Jatinangor terdapat di dua lokasi. Lokasi pertama adalah Greenhouse Riset ALG kawasan FTIP Pedca Utara. Air dipanen dari atap greenhouse, kemudian ditampung menggunakan toren. Air hujan yang dipanen kemudian dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi untuk penelitian hidroponik di dalam greenhouse. Sistem ini dibangun sejak tahun 2015 hingga sekarang. Nama greenhose tersebut saat ini dikenal dengan nama Bale Tatanen yang dimanfaatkan sebagai integrasi penelitian di bidang pertanian.
Sistem pemanenan air hujan dari atap gedung juga dibangun di gedung perkuliahan Departemen Teknik Pertanian dan Biokimia FTIP. Air hujan dipanen dari atap gedung kemudian dialirkan dan ditampung di bak penampung. Kelebihan aliran yang tidak tertampung dialirkan ke sumur resapan.
Universitas Padjadjaran telah mengimplementasikan sumur resapan dan taman biopori sebagai bagian dari strategi pengelolaan air yang berkelanjutan. Sumur resapan berperan penting dalam mendukung proses infiltrasi air hujan ke dalam tanah, dengan dua sumur resapan yang saat ini berada di Fakultas Geologi lama dan Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Selain itu, Unpad juga memiliki 30 titik biopori yang terletak di kawasan strategis, seperti di depan taman Fakultas Kedokteran, taman Bale Aweuhan (Masjid Raya Unpad), serta taman di dekat Gerbang Timur Gebang.
Pembuatan biopori juga terus dilakukan di lingkungan Unpad. Fakultas-fakultas aktif dalam kegiatan pembuatan biopori ini. Tenaga kependidikan dilibatkan pada pembuatan biopori di taman-taman Fakultas. Selain sebagai peningkatan infiltrasi air dan pengurangan limpasan air, biopori juga digunakan sebagai sarana edukasi untuk keberlanjutan air di lingkungan kampus, di mana pelibatan mahasiswa dan tenaga kependidikan juga terus dilakukan.
Kawasan arboretum merupakan kawasan hijau di area kampus Unpad Jatinangor, selain sebagai kawasan hijau, arboretum juga berfungsi sebagai daerah resapan air. Air hujan yang jatuh di bagian barat area kampus Unpad Jatinangor dapat disalurkan ke kawasan arboretum. Di area ini aliran limpasan permukaan tertahan dan terserap ke dalam tanah, kemudian sisanya dialirkan ke check dam arboretum.
Dalam upaya untuk menjaga keberlangsungan program konservasi air, Unpad berkomitmen untuk selalu menjaga sarana program konservasi air agar dapat berfungsi secara optimal. Salah satu upaya pemeliharaan rutin yang dilakukan adalah pengerukan lumpur pada Embung dan Check Dam. Hal ini dilakukan untuk membuang endapan sedimen yang ada sehingga Embung dan Check Dam tetap dapat berfungsi optimal dalam menyimpan air di lingkungan Unpad. Pengerukan ini dilakukan secara rutin setiap 6 bulan sekali.